Senin, 02 Januari 2017

KISAH MENYERAHNYA PASUKAN SPARTA YANG PANTANG MENYERAH


Sering dikatakan bahwa Prajurit Sparta telah dilatih semenjak dini, mereka tidak pernah mundur dan tidak pernah menyerah. Mereka akan bertarung sampai mati apapun alasannya. Namun Tuhan seolah ingin membuktikan bahwa kekuatan besar tidak abadi. Sejarah mencatat tentang kisah menyerahnya pasukan paling elit Sparta di Pertempuran Sphacteria dalam Perang Peloponnesia. Diceritakan prajurit Sparta bukan hanya kalah dari pasukan yang lebih ringan dari mereka, tetapi juga dipaksa untuk menyerah dalam keadaan yang memalukan.

            Semua rantai kejadian tersebut berada dalam Perang Peloponnesia yang berlangsung antara Athens dan Sparta. Perang itu merupakan perang panjang dengan banyak momentum naik turun dari kedua belah pihak. Strategi Sparta sangat simpel, yakni menginvasi teritori Attica di Athens, menghancurkan ladang, dan mengancam bangsa Athenia itu sendiri. Untuk prajurit Sparta yang impresif, seharusnya itu menjadi tugas simpel dan efektif. Sedangkan strategi Athenia adalah meneruskan perdagangan asing, dan prajurit mereka disiapkan untuk bertahan di darat, namun ofensif di laut dengan menyebar angkatan laut mereka ke seluruh Yunani. Beberapa tahun di dalam pertempuran, pada 425 S.M, Sparta mengirim serangan amfibi ke benteng Pylos milik Athenia. Pylos memiliki dermaga alamiah yang diperkuat oleh pulau panjang Sphacteria. Letaknya berada di daerah Peloponnesus yang sebagian besar dikontrol oleh Sparta. Maka itulah penting bagi Sparta untuk menendang Athenia keluar dari wilayah yang mayoritasnya milik mereka.

Sparta beraksi dalam sebuah serangan amfibi yang jarang dilakukan di masa kuno ini, mereka mendaratkan kapal trireme-nya di sebuah pantai dekat dengan kota kecil yang diperkuat oleh lawan. Dari sana mereka meluncurkan serangan amfibinya. Pasukan Athenia beruntung memiliki Jenderal yang berbakat, bernama Demosthenes, yang sanggup mengumpulkan banyak pasukan di tempat yang tepat di mana mereka diperlukan. Karena pasukannya ini, Sparta bahkan tidak bisa menembus pertahanan di pantai. Setelah lebih dari sehari mencoba menyerbu, mereka gagal. Di saat inilah armada laut Athenia tiba. Setelah terjadinya pertempuran laut dan pertempuran darat di sana, pasukan Sparta mulai kalah jumlah dan mundur hingga ke pulau sempit Sphacteria. Pasukan Athenia menyita kapal-kapal Sparta sehingga pasukannya yang masih bersembunyi di Sphacteria terjebak tidak bisa pulang. Dalam hal ini, pemerintah Sparta mengirim duta besar untuk bernegosiasi dengan Athenia. Negosiasi yang berkepanjangan itu dilakukan, tetapi hasil ujungnya tidak memuaskan untuk Sparta. Athenia menolak untuk mengembalikan kapal dan tawanan Sparta di pulau mereka, justru hendak menyerang 440 orang Sparta (yang terjebak di Pylos) yang 120 diantara mereka menyandang gelar Spartiates, pangkat tertinggi dalam kelas bangsa Sparta yang telah menyelesaikan latihan terkeras dan menjadi penguasa di kota-kota mereka.

Seperti yang terjadi, Athenia nyatanya mendapat kesulitan untuk mensuplai diri mereka. Persediaan air bersih untuk mereka sangat tipis dan persediaan makanan pun sulit diperbanyak karena fakta bahwa mereka menahan benteng miliknya yang berada sendirian di wilayah besar yang dikuasai oleh Sparta. Sebaliknya, Sparta bisa dengan mudah mendapatkan banyak suplai. Sebagian orang mereka berenang mencari makanan, menyelam dengan dalam agar menghindari blokade Athenia. Jenderal Athenia paham bahwa mereka harus menyerang secepatnya atau para Sparta di Sphacteria bisa kabur nantinya. Menengok barisan Athenia, sang Jenderal memiliki beberapa ribu orang yang kebanyakan adalah prajurit ringan, sementara lawan mereka meskipun lebih sedikit jumlahnya, adalah prajurit terhebat Sparta. Dengan meluncurkan serangan via jalan selatan pada satu dari dua sisi pulau panjang tersebut, pasukan Sparta dikagetkan oleh pasukan Athenia. Dalam serangan mendadak itu, pasukan Athenia mengerahkan semua orang yang mereka miliki, bahkan pendayung perahunya pun turun dengan senjata apa saja yang bisa mereka gunakan.

Pasukan besar ini cukup untuk mengisi seluruh bagian tanah dari sisi pulau sempit tersebut. Pasukan Sparta percaya diri bisa mengalahkannya, mereka pun menyiapkan serangan balasan ke para prajurit ringan Athenia tersebut, karena memang diketahui, prajurit Sparta pada dasarnya ditugasi untuk menekan pemberontakan budak-budak belian di kampungnya sana, budak yang biasanya sekelas dengan para prajurit ringan. Pada saat ini, pasukan Athenia telah memenuhi bagian pulau sampai ke beberapa dataran tanahnya yang tinggi. Setiap kali pasukan Sparta hendak menyerang, mereka dihujani panah, tombak, dan lemparan batu. Dikisahkan bahwa serangan yang bertubi-tubi itu sangat kuat sampai banyak pasukan Sparta yang terbunuh, bahkan termasuk juga Jenderal mereka sendiri. Sampai detik selanjutnya, pasukan Sparta masih belum menghasilkan apa-apa, dan mereka tidak punya pilihan selain mundur ke ujung utara dari pulau tersebut.

Di sini, pasukan Sparta berada di tanah yang tinggi, dengan banyak jurang bergerigi yang menghadap ke laut. Di tempat inilah pertempuran kembali menemukan jalan buntu. Pasukan Sparta tidak lagi menyerang, mereka hanya bertahan ketika pasukan Athenia bertubi-tubi melemahkan energi dan upaya mereka, serta menurunkan semangat dan kepercayaan diri mereka. Dari depan, pasukan Athenia masih belum berani menyerbu langsung, tetapi seorang komandan Athenia menggagas ide untuk menyerbunya dari belakang. Ia bersama beberapa prajuritnya bersukarela mengendap ke garis belakang musuh dengan memanjat tebing curam yang menghadap ke laut. Pasukan Sparta sama sekali tidak memperhitungkan serangan dari belakang karena menurut mereka tebing itu mustahil dilalui, karena itulah tidak ada yang menjaga bagian belakang tersebut. Ketika serangan mendadak itu dilancarkan oleh pasukan Athenia dari tebing, pasukan Sparta terkejut bukan main, suasana kacau sehingga pasukan Athenia utamanya, bisa langsung menyerbu naik ke dataran tinggi tersebut dari depan. Pasukan Sparta tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Pasukan Sparta yang terkepung itu melakukan apa yang belum pernah dilakukan oleh bangsa mereka yang terdahulu; mereka melempar perisai dan tombaknya ke tanah dan meminta bermusyawarah.

Komandan Athenia menghentikan serangan, mereka sudah merasa cukup bangga dengan pencapaiannya, bahwa mimpi mereka untuk menangkap para prajurit Sparta yang garang itu telah tercapai. Pembawa kabar berkali-kali bolak balik dari Sparta ke daerah tempat ditahannya para prajurit Sparta, semenjak para prajurit yang ditahan meminta saran dari kampung halamannya. Setelah sekian kali berdebat, akhirnya pihak Sparta mengirim surat kepada para prajurit yang ditahan itu, mengatakan bahwa mereka harus memutuskan sendiri nasibnya, selama itu tidak menjatuhkan nama baik Sparta. Kini sesama prajurit Sparta yang ditahan melakukan pertimbangan, dan pada akhirnya mereka menyatakan untuk menyerah.

Kabar tentang keputusan menyerah mereka mengguncang seluruh Yunani, dan kerajaan-kerajaan di sana salut kepada Athens yang sanggup memaksa para Sparta beserta Spartiates-nya untuk menyerah. Athenia selanjutnya menggunakan tahanan Sparta itu sebagai tawanan dan mengancam untuk membunuh mereka jika Sparta menginvasi Attica. Dengan bungkamnya Sparta, Athens menjadi agresif dan keseimbangan kekuatannya berlanjut sampai 21 tahun berikutnya.



*** AKHIR PERANG***

Ironisnya, perang panjang tersebut berakhir dengan Sparta keluar sebagai pemenangnya ketika Sparta menghancurkan armada negeri maritim Athenia. Reputasi Sparta memang pernah menciut ketika orang-orang mereka menyerah di Sphacteria, tetapi mereka mengambil kembali kehormatan mereka dengan memenangkan akhir dari seri perang tersebut. Di lain pihak, meskipun Athens kalah, ingatan bangsa Yunani takkan lupa siapa yang telah membuat pasukan paling elit Sparta tak berkutik.

KAU BUNUH SUAMIKU, KUBAWA TANK UNTUK MEMBALASMU



           
Mereka bilang, “Jangan main-main dengan hati perempuan”. Dan ini yang terjadi ketika seorang perwira Red Army terbunuh pada 1941. Mereka (para Nazi) yang membunuhnya, sama sekali tidak tahu bahwa aksi itu ibarat menandatangani kontrak kematian mereka sendiri. Bahwa istri si perwira yang terbunuh itu adalah Marya Oktyabrskaya—ia mendengar kematian suaminya dua tahun kemudian. Kepalanya langsung terisi kemarahan dan nantinya buku sejarah Uni Soviet akan mencatat namanya sebagai pahlawan perempuan.

            Nona Oktyabrskaya lahir dari sebuah keluarga petani di semenanjung Crimea sebagai satu dari sepuluh anak yang dipunyai orang tuanya. Saat ia menikahi suaminya yang seorang perwira Soviet pada 1925, ia langsung menunjukkan rasa tertariknya pada hal-hal beraroma militer dan langsung terlibat dalam ‘badan istri-istri militer’, tempat di mana ia dilatih sebagai suster di tubuh kemiliteran Soviet. Ia juga belajar cara menggunakan senjata dan cara mengemudikan kendaraan.

            Dengan pecahnya PD2, dua-pertiga pasukan Reich melakukan mars menuju kampung halaman Oktyabrskaya, merusak sebanyak-banyaknya yang mereka temui. Oktyabrskaya dievakuasi ke Tomsk, Siberia, tetapi suaminya dibutuhkan untuk tetap bertarung di belakang dan akhirnya—terbunuh. Semenjak Marya jauh di Siberia, butuh 2 tahun untuknya mengetahui kematian sang suami. Dan ketika kabar itu benar-benar sampai ke telinganya, ia marah besar. Ia menulis ke saudara perempuannya,
“Aku sudah membaptis diri dengan api. Terkadang aku sangat marah sampai bahkan tidak bisa bernapas.”
Selain itu, Marya juga membuat rencana untuk mengimpaskan dendamnya. Tidak ada apapun dalam diri Marya yang bisa menyembuhkan rasa kehilangan suaminya selain balas dendam. Ia bertekad untuk membalaskan kematian suaminya. Dan yang ia lakukan sangat impresif untuk ukuran seorang pembalas dendam, yakni menjual seluruh yang ia punya dan menulis surat ke Stalin yang kira-kira begini isinya:
“Suamiku terbunuh dalam aksinya ketika mempertahankan Tanah Pertiwi. Aku ingin membalas dendam kepada anjing-anjing fasis atas nama kematian suamiku dan kematian orang-orang Soviet yang disiksa oleh fasis yang barbar. Untuk tujuan ini, aku mendeposit segala yang kupunya, 50.000 rubles—kepada Bank Nasional untuk membuatkanku sebuah tank. Aku sangat berterima kasih jika tank tersebut diberi nama “Pacar yang bertarung”, dan tolong kirim aku ke front terdepan sebagai pengemudinya.”

            Akhirnya Stalin membalas surat itu dan menyetujui permintaannya. Dan dimulailah misi si wanita untuk membalas dendam. Awalnya militer Soviet agak ragu dengan kemampuannya dalam mengemudikan tank. Tetapi Marya yang sudah tidak sabar membalas dendamnya itu, membuktikan dalam sebuah latihan bahwa ia sanggup menembak, mengemudikan, dan melempar granat dengan kualitas sepadan dengan prajurit terbaik di sana. Pun, keraguan para perwira Soviet akan kemampuan Marya terhapus sudah ketika pertemuan pertama mereka dengan pasukan Nazi. Pada penampilan perdananya, Marya mengakali pasukan Jerman, membunuh sekitar 30an dari mereka dan merusak sebuah senjata anti-tank. Terperangah atas aksi heroik janda 38 tahun itu, militer Soviet pun memberinya pangkat Sersan.

            Lagi, Marya membuktikan dirinya berguna dengan aksinya di penyerangan malam hari pada November 1943. Pada saat itu pasukan bazooka lawan merusak rantai roda tank Marya. Bukannya sembunyi di kokpit mesinnya, Marya malah melompat keluar tank. Rekannya melindunginya saat ia memperbaiki roda tank tersebut. Setelah selesai diperbaiki ia pun naik dan masuk lagi ke tank-nya.

            Tahun berikutnya adalah pertempuran akhir Marya. Si pendendam itu memimpin unitnya menuju garis tembak Nazi dengan skillnya yang sangat sempurna, ia berhasil melewati dua parit musuh sebelum akhirnya roda tank-nya diledakkan lagi oleh tembakan musuh. Sekali lagi ia keluar dan memperbaiki tank “Fighting Girlfriend”nya itu. Saat sedang memperbaiki, peluru dari artileri Jerman meledak dekatnya dan pecahannya mengenainya, membuatnya langsung jatuh koma. Dua bulan setelah pertempuran terakhirnya, sang sersan tak kenal takut itu menyerah pada lukanya dan akhirnya dapat bergabung dengan sang suami di kehidupan setelah mati.


Pasca perang, Marya Oktyabrskaya dianugerahkan penghargaan tertinggi  dalam tubuh militer Soviet, yakni Hero of the Soviet Union award.




JULIA PASTRANA: “WANITA KERA” YANG DIMUMI SUAMINYA





Julia Pastrana lahir pada tahun 1834 di rumah Pedro Sanchez di Sinaloa, Mexico. Sejak lahir ia didiagnosa dengan kondisi genetik yang kejam—hypertrichosis lanuginose yang umum, tetapi pada zaman itu tidak diketahui. Wajah dan tubuhnya berambut, ia memiliki hidung yang sangat besar dan telinga serta gigi yang tidak biasa. Sekilas, orang pasti akan menyebutnya wanita kera. Pastrana berhasil menyeberangi perbatasan Mexico dan pindah ke A.S. faktanya, ia adalah seorang yang berbakat yang sanggup menyanyi, menari dan melakukan aksi entertainment publik lainnya. Pada awalnya ia bekerja dengan J.W. Beach yang adalah manajernya. Performa pertamanya adalah saat manggung di Gothic Hall, Broadway, New York City. Ia mengenakan gaun merah, menyanyikan lagu tradisional Spanyol dan menari tarian Highland Fling.

            Pada tahun 1854, ia bertemu dengan suami masa depannya, Theodore Lent. Mereka menikah dan Lent mengambil bagian menjadi manajernya. Mereka berkeliling bersama ke pelosok A.S hingga Eropa. Ia dikenal dengan nama “Wanita Kera”, “Wanita Beruang” atau “Wanita Baboon”. Tetapi Lent nyatanya tidak hanya touring dengan Pastrana untuk manggung, melainkan juga untuk disuguhkan ke depan profesor dan dokter untuk diteliti. Lent bahkan membuat cerita bualan tentang Pastrana, bahwa ibunya berasal dari suku pedalaman dan pergi meninggalkan desanya menuju gunung di mana ia kawin dengan primata, dan setelah beberapa tahun ditemukanlah bayinya (Julia Pastrana) di sebuah goa.

Pastrana tidak bicara saat dirinya diperiksa oleh dokter, ia hanya berbaring diam sementara manajer (serta suaminya) itu yang bicara ngalor ngidul. Setiap dokter yang pernah mereka sambangi punya teori berbeda-beda tentangnya. Satu teori mengatakan ia memang seorang hybrid dari manusia dan Orang utan. Dokter lain berkata bahwa Pastrana adalah “spesies terpisah”. Seorang zoologist bernama Francis Buckland pernah berkata bahwa Pastrana hanyalah seorang wanita indian Mexico yang mengidap cacat, sedangkan ahli anatomi dan naturalis Samuel Kneeland, Jr. Mengklaim bahwa ia adalah wanita keturunan suku Indian. Klaim Kneeland, Jr. Nampaknya adalah yang paling dapat dipercaya karena kenyataannya memang benar, bahwa Pastrana adalah seorang keturunan suku Indian Paiute.


            Pada 1860, saat Pastrana baru berumur 26 tahun ketika dirinya sedang tur di Moskow, ia melahirkan bayi yang kondisinya sama dengannya. Sayangnya anak itu meninggal setelah beberapa jam dan setelah beberapa hari pasca kelahiran itu, Pastrana juga meninggal karena komplikasi postpartum. Bukannya mengurus pemakaman, Lent malah pergi ke seorang profesor di Universitas Moskow dan memintanya untuk memumikan istri dan putranya yang telah meninggal itu. Dan semua permintaannya terjadi. Dua tahun kemudian, Lent ditemukan sudah menikahi wanita “berjenggot” lainnya yang ia panggil dengan nama Zenora Pastrana. Menurut beberapa kisah, Lent meninggal pada 1884 di sebuah rumah sakit jiwa di Russia. Tubuh Pastrana dan anaknya yang dimumikan hampir terlupakan sampai tahun 1921 ketika mereka muncul di Norwegia. Mereka dipamerkan sampai 1970, tepatnya sampai Amerika Serikat mengambil alihnya untuk dipamerkan di negerinya. Suatu ketika, seorang tak dikenal masuk ke fasilitas tersebut dan memutilasi mumi bayinya.


TENTARA KULIT HITAM AMERIKA SEMASA PDI

– HARLEM HELLFIGHTERS – 


Semasa Perang Dunia I, hampir 380.000 orang Afro-Amerika bertugas di Angkatan Bersenjata A.S. Kebanyakan dari mereka bertugas di Divisi ke-92 dan 93. Meskipun tidak ada politik perbedaan ras yang tergaris bawahi dalam perekrutan wajib militernya, tetapi setelah masuk, tentara sukarela Afro-Amerika ini disuruh untuk menyobek sedikit bagian pojok dari kartu identitas mereka untuk menandai bahwa mereka adalah orang kulit hitam, bukan orang kulit putih.

            Unit yang sepenuhnya berisi orang kulit hitam ini biasanya dipimpin oleh petugas kulit putih, dan mereka ditugaskan untuk melakukan misi non-combat, semisal menggali parit, membuat jalan, dan menyuplai garis depan. Dari seluruh perjalanan perang, hanya satu dari sepuluh unit Afro-Amerika yang bertugas dalam aksi peperangan. Resimen infanteri ke-369 dari Divisi 93 adalah unit tersebut, dijuluki Halem Hellfighters. Mereka dikirim ke Prancis pada Desember 1917. Aslinya, mereka ditujukan agar ditempatkan sebagai penjaga sisi, tetapi keberuntungan mereka berubah ketika Jenderal John Pershing menempatkan mereka ke Divisi ke-16 pada Pasukan Militer Prancis. Tentara Prancis, tidak seperti orang Amerika, sangat senang mendapat sukarelawan yang mau bertarung, tidak peduli apa etnisnya.


            Maret 1918, resimen ini mulai berlatih dibawah komando Prancis. Meskipun tugas tentara ini diharapkan sebagai tugas sementara, tetapi anggota resimen 369 dikemudian hari tidak pernah lagi bertugas dibawah komando Amerika selama perang, dan saat musim panas mereka berperang di laga pertahanan Champagne-Marne, juga ofensif di Aisne-Marne. Harlem Hellfighters dikenal sebagai pasukan yang keras kepala dan seringkali menolak perintah atasannya untuk mundur. Jika sudah bertempur, mereka tidak akan mau mundur sejengkal pun dari posisinya. Hal ini dengan cepat membuat namanya melambung menjadi salah satu pasukan yang paling dihormati sekutu dan paling ditakuti lawan. Pihak Jerman-lah yang secara orisinil memberi nama “Harlem Hellfighters” untuk resimen 369 ini.

            Sedangkan sekutu mereka, yakni Prancis, memberi mereka julukan lain; “The Men of Bronze”. Pasukan kulit hitam ini menghabiskan 191 hari berturut-turut di front depan, dan tercatat sebagai waktu bertugas yang paling lama dari resimen Amerika lainnya pada waktu itu. Selama ofensif Meuse-Argonne yang dimulai pada 26 September 1918, Harlem Hellfighters mengambil alih kota kecil Ripon dan di hari berikutnya berhasil mendorong musuh sampai sejauh satu kilometer. Pada akhir bulan, mereka maju sampai posisi kritis dekat Sechault, dan mengambil kunci persimpangan jalan kereta. Dalam aksi tersebut, mereka harus mengorbankan 851 orangnya yang tewas atau luka-luka. Sebagai penghargaan keberanian mereka, medali keberanian pun diberikan kepada 171 orang anggota Harlem Hellfighters, sementara yang lainnya (keseluruhan resimen) menerima “Croix de Guerre” dari pemerintah Prancis.

            Di luar peperangan, Harlem Hellfighters menghibur sahabat tentara Eropa mereka dengan memainkan musik Jazz dan musik ragtime Amerika. Mereka punya band yang bernama 369th Jazz Band, atau dikenal juga dengan Hellfighters, band ini dipimpin oleh James Reese Europe. Setelah berakhirnya perang besar tersebut, band Jazz Hellfighters ikut ambil bagian dalam parade kemenangan di Fifth Avenue, New York, diiringi lebih dari satu juta orang penggemar mereka. Tahun berikutnya, orang-orang menyambut para prajurit pemberani ini pulang ke rumah.

            Terlepas dari tersohornya keberanian mereka, kehidupan sehari-hari mereka di Amerika tidak banyak berubah. Tragedi ‘Red Summer’ yang menyeramkan pada 1919 menjadi saksi meletusnya kerusuhan anti-kulit hitam yang berkobar di 26 kota. Pembersihan etnis kulit hitam dan hukuman mati tanpa pengadilan sedang tinggi-tingginya di Amerika pada saat itu. Paling tidak, 10 dari 77 korban hukuman mati yang tidak adil itu adalah para veteran perang, dan bahkan ketika dibunuh, para veteran ini tengah mengenakan seragam kebanggaan mereka. Sedih bagi masyarakat kulit hitam, bahwa untuk mencapai hak persamaan etnis mereka, Amerika mesti berjuang sampai satu perang lagi (PD2), serta harus melewati dekade penuh pro kontra sebelum akhirnya bisa mencapai hak-hak yang seharusnya sudah bisa mereka nikmati. Faktanya, militer Amerika Serikat masih memberlakukan sistem “pemisahan” warna kulit sampai tahun 1948. Dan jejak kepahlawanan kulit hitam baru dibahas akhir-akhir ini saja. Pada tahun 2014, undang-undang baru membahas tentang Sersan Henry Johnson yang bertugas di dalam resimen 369 untuk diberikan ‘Medal of Honor’ sebagai tanda hormat aksinya selama Perang Dunia 1. Karena rasisme di dalam Kemiliteran Amerika, banyak prajurit pemberani Afro-Amerika tidak mendapatkan penghargaan untuk pelayanan yang mereka berikan selama Perang Dunia Pertama. Padahal, sejarah mencatat, dari mereka yang gugur di pertempuran, 169 orang berasal dari resimen 369. Mereka dikubur di pemakaman ABMC. Kebanyakan dari mereka dikubur juga di Meuse-Argonne, Aisne-Marne, Oise-Aisne, St. Mihiel dan Suresnes. Pemakaman ABMC adalah pemakaman yang terpadu, bahwa ras dan pangkat tidak berpengaruh. Prajurit hitam bisa saja diapit oleh makam dua prajurit putih atau sebaliknya. Karena jika di saat peristirahatan terakhir saja mereka masih mendapat pemisahan, itu sungguh keterlaluan.




FOTO:
Pasukan dari resimen 369 yang mendapat penghargaan Croix de Guerre karena keberanian mereka(1919). Kiri ke kanan, barisan depan : Pvt. Ed Williams, Herbert Taylor, Pvt. Leon Fraitor, Pvt. Ralph Hawkins. Barisan belakang : Sgt. H. D. Prinas, Sgt. Dan Storms, Pvt. Joe Williams, Pvt. Alfred Hanley, and Cpl. T. W. Taylor.

HALF SWORDING- MEMEGANG BILAH PEDANG UNTUK BERTARUNG


Seiring berkembangnya senjata di abad pertengahan, maka berkembang jugalah alat pertahanannya, termasuk pembuatan baju zirah tebal yang berat. Tusukan atau sayatan pedang biasa takkan mampu menusuknya. Lalu bagaimana seorang ksatria bisa mengalahkan lawannya dalam duel tersebut?

Half-Swording atau Half-Sword, adalah sebuah teknik dalam seni pedang abad ke-14 sampai ke-16. Adalah dengan menggenggam bagian tengah dari bilah pedang dengan tangan kiri untuk menusukkan pedang ke lawan yang biasanya mengenakan zirah tebal. dengan genggaman kedua tangan pada pedang seperti ini, tusukan akan semakin kuat dan dalam. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman Halbschwert. dan nama sebenarnya dari teknik ini adalah "Mit dem Kurzen Schwert" (Dengan pedang yang dipendekkan)

Saat menghadapi seorang lawan yang mengenakan zirah tebal, serangan ayunan atau irisan pedang tidak terlalu berguna. Dan cara paling ampuh untuk mengakali musuh seperti ini adalah dengan menusukkan pedang dengan sekuat-kuatnya di bagian armor yang kurang terlindungi (biasanya ketiak/leher). Tusukan kuat sambil memegang bilah pedang juga biasanya dilancarkan untuk musuh yang sudah terbaring. bahkan beberapa pedang sudah dimodifikasi untuk teknik serupa.

Filippo Vadi, master anggar italia yang menulis buku "De Arte Gladiatoria Dimicandi" menyarankan agar pedang hanya dibuat runcing pada bagian mendekati (dan) ujungnya saja.

Pedang dengan 'Ricasso', yaitu modifikasi untuk tidak menajamkan bilah yang berada dekat pegangan (crossguard). Ricasso untuk pedang yang ukurannya lebih besar, semisal Zweihander (pedang- dua tangan) memiliki area yang lebih panjang.



Gambar 2 : contoh Half-sword yang ada pada halaman manuskrip 'Codex Wallerstein'. terlihat pada gambar, pria di sebelah kiri melakukan half-sword sedangkan pria di sebelah kanannya membalas dengan teknik 'Mordhau' (Murder Stroke/murder Strike) dengan cara memegang pedang terbalik dan memukul lawan dengan ujung gagangnya (pommel). teknik semacam ini digunakan untuk serangan alternatif seperti pukulan oleh gada, dan biasanya digunakan oleh pengguna baju besi.

GLADIATOR DAN KEPUNAHAN BINATANG


Tradisi membunuh binatang untuk bersenang-senang sudah ada lama dalam sejarah di Asia dan di Eropa. Dalam mosaik dan lukisan-lukisan Romawi, sering digambarkan perburuan binatang sebagai aktivitas heroik. Membantai binatang dianggap sebagai bentuk entertainment, dan masyarakat bertaburan ke pinggiran negeri mereka untuk mencari beruang, singa, rusa jantan, atau babi hutan untuk dikejar dengan anjing mereka, atau sampai tombak menembusnya.

    Sebagaimana Kekaisaran Romawi tumbuh berkembang sampai seluruh wilayah Mediterrania, masyarakat mereka pun bebas berjalan-jalan ke seluruh daerahnya untuk berburu atau membawa pulang binatang tangkapan mereka untuk nantinya dibunuh dalam kontes gladiator di Coliseum dan arena-arena lainnya di seluruh wilayah Romawi. Bagaimana tidak punah? Permainan gladiator mereka berlangsung lebih dari 400 tahun di lebih dari 70 Amphiteater, dan yang terbesar bisa menopang sampai 50.000 penonton.

 Kaisar-kaisar Romawi membumbui acara gladiator mereka seperti yang para pendahulu mereka selalu lakukan untuk membuat publik senang, yakni dengan membunuh lebih banyak binatang dan memproduksi acara yang lebih spektakuler. Kaisar Titus meresmikan Coliseum Romawi dengan mengadakan 100 hari perayaan, yang selama itu berlangsung, sangat banyak sekali jumlah binatang ditombaki setiap harinya oleh para gladiator. Di hari pembukaan saja, paling tidak 5.000 binatang telah dibantai, dan dua hari berikutnya, 3.000 lainnya ikutan menyusul. Binatang yang dikandangi tetap disimpan di gudang bawah tanah di mana mereka tidak diberi makan, dan pada hari festivalnya, mereka dilepaskan di arena. Disanalah para penonton bersorak sorai penuh kegembiraan, drum-drum dimainkan, terompet dibunyikan, dan binatang kebingungan ini siap dibunuh oleh predator terganas di muka bumi, yakni manusia.

Terkadang, beberapa binatang sengaja diadu untuk melawan sesamanya, dan di waktu lain, orang-orang bersenjatakan tombak dan trident mengejar mereka di arena yang sudah dihias menyerupai hutan dengan semak buatan, seolah menggambarkan mereka sedang berburu di hutan liar. Satu saja acara “perburuan di hutan liar” semacam ini tayang, maka paling tidak 300 ekor burung unta dan 200 ekor kambing gunung Kamois mati terbantai.

Singa, harimau, beruang, banteng, macan tutul, jerapah, serta rusa mati setelah disiksa, ditusuk dan digores. Kucing besar yang telah dibiarkan kelaparan dilepas ke arena di mana para tahanan perang dan budak belian telah dicambuki pada sebuah tonggak. Binatang ini menyakar habis para tahanan perang dan budak itu dan menikmatinya, sebelum kemudian, merekalah yang menjadi korban dari para gladiator. Di acara gladiator berskala besar, satu hari bisa cukup untuk membantai 500 ekor singa, lebih dari 400 ekor macan tutul, atau 100 ekor beruang. Kuda nil, badak, buaya, dibawa serta ke arena ini dan terkadang para gladiator menggunakan metode yang ganjil untuk membunuh mereka. Semisal dengan memenggal kepala burung onta yang sedang berlari dengan menggunakan panah berbentuk bulan sabit. Seolah aksi gila mereka menambah rating acara tersebut.

    Penonton akan bersorak gembira dan tertawa ria saat pembantaian brutal kepada binatang dilakukan, tetapi ketika 20 ekor gajah diadu melawan seorang gladiator bersenjata, tangisan gajah-gajah yang tersiksa ini akan membuat para penonton untuk meneriakkan “Huu!!” (sorakan hinaan) kepada sang Kaisar atas kekejamannya. Meskipun gajah membuat nama kaisar turun, tetapi penggunaan gajah tetap saja tidak berhenti. Pembantaian seperti ini mengeliminasi mamalia besar dari area Mediterania. Gajah Afrika Utara (Loxodonta africana)misalnya, mereka telah musnah karena diburu dan ditangkapi untuk mati di arena-arena Romawi. Selain itu, gajah-gajah juga dipakai oleh orang Romawi untuk transportasi dan pertarungan. Romawi mungkin menjadi salah satu elemen besar dalam kemusnahan gajah asia (Elephas maximus) dari tanah Asia barat. Tidak lupa juga dengan Hannibal Barca, Jenderal Carthagia yang menggunakan gajah untuk melintasi Alpen, yang mana gajahnya kemudian mati semua karena pencahayaan matahari.


 Sebelum ekspansi Kekaisaran Romawi, ada binatang bernama beruang Atlas (Ursus arctos crowtheri) yang tinggal di pegunungan dan hutan di Afrika Utara. Mereka adalah satu-satunya jenis beruang yang dimiliki benua Afrika. Nama mereka berasal dari habitat terakhir mereka di gunung Atlas, Maroko, mereka termasuk dalam ras beruang coklat yang endemik kepada Eurasia dan Amerika Utara. Dan Afrika utara adalah wilayah paling selatan untuk jenis beruang dari keluarga tersebut. Saat Romawi memasuki Eropa Utara, mereka membabat hutan tempat beruang ini tinggal dan membantai ribuan dari mereka untuk olahraga. Yang lain ditangkapi untuk pertarungan di Coliseum melawan Gladiator. Melewati abad-abad Romawi, beruang ini masih bertahan. Tetapi lagi, manusia mencampuri tanah mereka dengan membabat hutan gunung Atlas untuk bahan material bangunan, dan para pemilik tanah era kolonial menggunakan tanah yang sudah gundul itu untuk tempat dilepasnya ternak mereka. Pada masa ini, beruang Atlas semakin dilarang untuk pulang ke gunung Atlas. Di abad ke-18, seorang naturalis Prancis mendapati kulit beruang ini yang masih segar, dan mulai membuat laporan sains tentangnya. Orang-orang mulai tertarik dan akhir 1830an, beruang ini menjadi pemandangan biasa di kebun binatang di Prancis. Pada 1840, ilmuwan Inggris menyatakan bahwa beruang ini, walaupun lebih kecil dari beruang hitam Amerika, tetapi terbukti adalah subspesies darinya. Beruang ini gempal dengan moncong pendek, berwarna cokelat kehitaman dan bulu punggungnya bertekstur tidak rata. Bulu perutnya berwarna oranye. Meskipun beruang Atlas semakin langka jumlahnya pada masa itu, tetapi tidak ada perlindungan untuk mereka, dan beruang terakhir mati ditembak sekitar tahun 1870.


Yang tadi beruang. Yang ini adalah singa.
Herodotus dan Aristoteles, para filsuf dunia kuno dari Yunani, menulis bahwa singa-singa pernah hidup di negeri mereka pada masa itu. Dua ribu tahun yang lalu, habitat kucing besar ini meluas sampai ke ujung timur sampai India dan Pakistan dan diseluruh benua Afrika. Sekarang Eropa hanya bisa mengenang singa milik mereka dari perisai atau coat-of-arms mereka saja, karena singa eropa telah musnah dari Italia dan Yunani karena diburu dan ditangkapi. Ribuan dari mereka menjemput ajal demi sorakan dan tawa penonton di pertunjukan gladiator. Ketika singa eropa sudah habis semua, Romawi pun menengok ke Afrika utara. Dulu di Afrika utara ada spesies bernama Barbary Lion atau Atlas Lion (Panthera leo leo), mereka adalah spesies singa gurun yang pernah menyebar di utara Sahara. Mereka dikenal karena bulu rambutnya yang sangat besar yang sampai menutupi setengah badannya. Singa Atlas jantan adalah spesies singa terbesar dari seluruh spesies singa yang pernah hidup sejaman dengannya. Mereka juga menyandang gelar sebagai singa pertama yang dinamai dalam subspesies keluarga singa. Beratnya bisa sampai 500 pounds dan panjangnya sampai 10 kaki dari ujung hidung sampai ujung ekornya. Sang predator majestik ini pun jatuh ke tangan predator konyol yang mempermainkan kematian mereka di Coliseum. Sama seperti beruang Atlas, mereka bertahan dari abad Romawi dan sisanya mulai mundur ke bagian hutan terdalam. Tetapi manusia tetap mengejar mereka, suku-suku Arab, Tunisia dan Aljazair mengejar mereka untuk olahraga, dan kemudian, pemerintah kolonial Prancis memberikan bayaran untuk kulit binatang besar ini. Pada abad ke-19, lomba perburuan kulit singa selesai dengan terbunuhnya singa terakhir di Aljazair. Sisa dari singa ini ternyata masih ada dan sama seperti beruang Atlas, satu-satunya harapan mereka untuk berlindung adalah gunung Atlas. Di sana pada 1922, singa terakhir dilaporkan terbunuh oleh pemburu. Meskipun dinyatakan punah, tetapi beberapa dari singa terakhir masih bertahan di penangkaran. Di kebun binatang dan di sirkus, ditemukan singa jenis ini, dan usaha pengembangbiakan mereka pun buru-buru digalakkan.


Sementara itu pada abad ke-13, singa sudah dimusnahkan dari Mediterania timur. Mereka sudah lenyap dari Irak, Iran, dan Pakistan pada 1800an. Singa terakhir di Arab Saudi saja terbunuh pada 1923. Kenapa singa bisa dimusuhi seperti itu?

            Karena, untuk budaya kuno di Asia barat dan Timur tengah, membunuh salah satu dari kucing besar ini (apalagi jantan), dianggap sebagai tindakan heroik dan boleh dicatat dalam lukisan atau mosaik. Banyak karya seni dari budaya Assyria dan Asia barat yang menggambarkan itu. Pada pertengahan abad 19, Singa Asia, (Panthera leo persica) dipindahkan ke India dan menyebarluas di negeri tersebut. Tetapi selama setengah waktu terakhir abad ke-19, perwira kolonial Inggris kembali membahayakan kelangsungan hidup mereka dengan hobi berburunya. Biasanya orang Inggris akan dengan bangga membawa kulit singa hasil buruannya kembali ke Inggris untuk oleh-oleh. Tetapi hasilnya? Seorang pemburu ini membuat iri para bangsawan lainnya dan berbondong-bondong dari mereka kembali ke India untuk menembaki 300 ekor singa India pada 1860. Tentu saja oleh tekanan seperti itu, singa langsung menghilang dari seluruh India. Pada tahun 1900, perlindungan akhirnya disuarakan untuk spesies terakhir singa ini saat populasinya sudah sangat menipis, yakni dibawah angka 100. Sekarang jumlah singa di hutan Gir itu bertambah sekitar ratusan lebih, dan itulah yang tersisa dari kucing besar Eurasia ini. Mereka sekarang dilindungi di Taman Nasional Sasan Gir di India barat, di sana populasi mereka bertambah.




Sumber Dari : http://www.endangeredspecieshandbook.org/persecution_roman.php

KELAS-KELAS GLADIATOR ROMAWI





Ada kelas berbeda untuk gladiator dari masa Romawi kuno. Awal gladiator memang adalah tahanan perang yang diadu untuk rekreasi khalayak, dan mereka mendapat julukan dari negeri asal mereka, misalkan jenis paling awal gladiator adalah Gauls, Samnites, Thraeces (Thracians)— yang dinamai demikian karena menggunakan senjata dan armor tradisional asal negeri mereka. Setiap gladiator dispesialisasikan ke senjata masing-masing dan sangat umum jika satu dan lainnya yang (bersenjata) berbeda diadu dalam sebuah pertempuran. Sebagaimana aturannya, gladiator hanya bertarung melawan gladiator lain dari satu sekolahnya (Ludus), tetapi terkadang seorang gladiator bisa saja diminta untuk bertarung melawan sekolah lainnya. Gladiator yang elit mengenakan armor yang dibuat khusus untuk parade sebelum permainan (Pompa). Gladiator masa Julius Caesar berarmor perak, gladiator masa Domitian berarmor emas yang solid, sedangkan Gladiator masa Kaisar Nero mengenakan armor yang didekorasi dengan batuan amber yang diukir.

Berikut adalah list tentang jenis-jenis gladiator yang masing-masing memiliki gaya bertarung, senjata, dan perlengkapannya sendiri.

ARBELAS – kelas Arbelas hanya didapat dari satu sumber, yaitu sebuah list gladiator dari Lanista C. Salvius Capito pada abad pertama SM. Nama Arbelas berasal dari Arbelai, sebutan untuk pisau berbentuk bulan sabit yang dipakai oleh pembuat sepatu untuk memotong kulit. Arbelas biasanya diadu melawan Retiarii atau melawan sesamanya.

BESTIARIUS – adalah petarung yang melawan binatang, karena kelas ini sebagian besar menghabiskan waktu di arena untuk menghadapi singa atau beruang.


BUSTUARIUS – secara harafiah adalah “petarung makam” (tomb fighter), istilah tersebut merujuk kepada asosiasi tempur gladiator dengan permainan pemakaman (munera) ketimbang gaya bertarung normal.

CESTUS – adalah petarung tangan alias petinju yang mengenakan cestus, yakni sarung tinju kuno yang brutal. Sama seperti petinju sekarang, mereka tidak mengenakan armor.


DIMACHAERUS – dari bahasa Yunani yang berarti “membawa dua pisau”, petarung yang menggunakan dua pedang pada kedua tangannya.


EQUITES – adalah bahasa latin regular untuk horseman alias kavaleri. Bentuk awal gladiator Eques diperlengkapi armor ringan dengan pedang atau tombak. Armor mereka bersisik, serta membawa perisai kavaleri yang bulat dan berukuran sedang (parma equestris)—serta helm bertepi dengan dua bulu sebagai dekorasi namun tanpa jambul. Bentuk akhir, mereka mendapat tambahan pelindung kaki dan lengan, dengan pakaian tunik berikat pinggang. Umumnya, Equites hanya bertarung melawan sesama jenisnya.


ESSEDARIUS – dari bahasa latin yang berarti kereta perang Celtic, essedum. Pertama kali dibawa ke Roma dari Britania oleh Julius Caesar. Essedarii muncul sebagai petarung arena di banyak inskripsi setelah abad pertama. Mereka bertempur dari kereta perang.


HOPLOMACHUS – dari bahasa Yunani yang berarti petarung bersenjata. Ia mengenakan cawat, ikat pinggang, pembungkus kaki berlapis yang menyerupai celana, pelindung lengan, dan pelindung tangan (pada tangan yang memegang pedang), serta helm bertepi yang bisa dihiasi jambul dan bulu-bulu pada atasnya atau pada setiap sudutnya. Ia dipersenjatai dengan gladius (pedang tipikal Romawi) dan perisai bulat yang sangat kecil. Ia juga membawa sebuah tombak yang biasanya dilempar pertama kali sebelum maju untuk menyerang dari jarak dekat. Mereka biasanya dipasangkan untuk bertarung melawan Murmillo atau Thraeces.


GLADIATRIX – adalah gladiator perempuan. Apapun kelasnya, jika perempuan maka dinamai Gladiatrix.


LAQUEARIUS – semacam Retiarius yang mencoba menangkap lawannya dengan lasso (bukannya jaring seperti Retiarius). Ia diperlengkapi juga dengan pisau untuk menusuk lawan yang sudah tertangkap lassonya.


MURMILLO – mengenakan helm bergaya ikan dengan jambul yang mirip sirip. Ceritanya, Murmillo memang bersimbol ikan dan pasangannya biasanya Retiarius si penjaring (menggambarkan nelayan yang harus menangkap ikan)—selain helm tadi, Murmillo mengenakan pelindung lengan, cawat dan ikat pinggang, kain pelindung betis pada kaki kanannya, dan ikatan kain yang tebal yang mengikat punggung kakinya, serta pelindung lutut yang sangat pendek, membiarkan pahanya terbuka. Mereka adalah diantara gladiator yang memiliki armor berat. Senjatanya adalah sebuah gladius dan perisai besar ala legiuner. Selain dipasangi dengan Retiarius, Murmillo bisa juga dipasangi untuk beradu dengan Thracia atau Hoplomachus.


PARMULARIUS – bukanlah sebutan untuk satu tipe gladiator, tetapi merujuk ke setiap gladiator yang membawa Parmula (perisai kecil). Hoplomachus atau Thraex termasuk dalam kelas ini juga. Karena hanya diperlengkapi perisai kecil, jadi Parmularius cenderung memakai sepasang pelindung betis yang panjang.

PROVOCATOR – seperti namanya, Provocator berarti sang penantang. Di masa akhir Republik dan masa awal Imperial, armamen mereka menjiplak seragam pasukan Legiuner. Tetapi seiring mendekati akhir masa Imperial, armamen mereka mulai berubah meninggalkan kemiripannya dengan seragam militer. Mereka mengenakan cawat, ikat pinggang, pelindung panjang di kaki kiri, sebuah manica (pelindung lengan) di lengan kanan, dan helm berlidah (seperti topi) tanpa jambul atau tepi, tetapi dengan sepasang bulu di setiap kanan dan kirinya. Mereka adalah satu-satunya tipe gladiator yang dilindungi oleh armor tubuh (breastplate) yang biasanya bentuknya persegi, dan nantinya berubah menjadi bentuk bulan sabit yang hanya melindungi dada atas mereka saja. Mereka bersenjatakan perisai persegi yang tinggi dan sebuah pedang gladius. Mereka hanya dipasangkan untuk melawan sesama Provocator saja.


RETIARIUS – Si petarung jaring. Dikembangkan pada awal periode Augustan. Ia membawa trident dan sebuah jaring. Mengenakan cawat yang terikat oleh ikat pinggang besar, juga dilindungi oleh pelindung lengan yang lebih besar, mencakup bahu sampai seluruh lengan kirinya, tetapi sebagai gantinya ia harus bertarung tanpa perlindungan helm. Terkadang perisai logam dipasang ke bahu kirinya untuk menambah perlindungan leher dan wajah bagian bawah. Selain dipasangkan dengan Murmillo, Retiarius biasanya dipasangkan oleh dua orang Secutor di satu pertarungan (1 vs 2)—Retiarius akan berdiri di sebuah jembatan atau panggung bertangga, disediakan untuknya setumpuk batu untuk ditimpukkan ke lawannya. Tugasnya adalah menahan posisinya, sedangkan tugas dua orang Secutor tadi adalah untuk merobohkan panggung dan menyerangnya. Panggungnya disebut pons (artinya jembatan), dan biasanya sengaja dibuat di atas air.


RUDIARIUS –gladiator yang telah mendapatkan kebebasannya, akan mendapat pedang kayu (rudis) atau tongkat kayu. Tetapi jika dia ingin dirinya tetap menjadi gladiator, ia akan masuk ke kelas Rudiarius. Kelas mereka sangat terkenal di khalayak sebagai jawara karena mereka telah melewati setiap pertarungan sebelumnya dengan pengalaman segudang tentang dunia aduan di arena. Tidak semua Rudiarii melanjutkan untuk bertarung, ada hirarki bagi rudiarii untuk menjadi pelatih, pembantu, wasit, dan tentu saja, petarung.


SAGITTARIUS – adalah pemanah yang menaiki kuda, bersenjatakan busur panah refleks yang sanggup melesatkan anak panah dari jarak luar biasa.


SAMNITE –adalah tipe awal petarung berarmor berat yang kelasnya menghilang di awal periode imperial. Mereka adalah liga suku-suku Italia yang kuat dari wilayah Campania yang telah diperangi Romawi dalam peperangan besar antara 326 dan 291 SM. Mereka diperlengkapi oleh Scutum, alias perisai persegi yang panjang, helm berbulu, sebuah pedang pendek, dan bisa saja mengenakan sebuah pelindung kaki untuk kaki kirinya. Dikatakan berulang kali, bahwa Samnite mungkin adalah kelas yang paling untung, karena mendapat perisai besar dan pedang yang bagus.


SCISSOR –menggunakan pedang pendek spesial di tangan kirinya. Pedang tersebut unik bentuknya yang mana seluruh tangan kiri dapat masuk ke tabung besinya dan memegang pegangan di dalamnya, di luarnya, bilah pisau pedang unik ini berbatang baja dengan pisau berbentuk setengah lingkaran yang didesain untuk merobek lawan. Di tangan kanannya, ia memegang pedang. Dengan kedua senjata ini, dispekulasikan bahwa cara bertarung Scissor adalah untuk menjebak lawan antara kedua senjatanya dan memotong lengan lawan tersebut seperti gunting yang memotong sebuah objek.


SCUTARIUS – atau Scutari, bukanlah tipe satu gladiator tetapi semua gladiator yang menggunakan perisai besar, contohnya scutum. Murmillo dan Secutor masuk dalam kelas Scutarius. Kebalikan dari Parmularius (kelas yang memasukkan segala gladiator berarmor kecil), para Scutari hanya boleh menambah perlindungan yakni dengan sebuah pelindung lutut yang kecil pada kaki kanan mereka.

SECUTOR – atau si pengejar. Dikembangkan untuk melawan Retiarius, mereka adalah varian dari Murmillo, mengenakan senjata dan armor yang juga sama dengan Murmillo. Bedanya, helm Secutor melindungi seluruh kepala tetapi dua lubang matanya sengaja dibolongi untuk melindungi wajahnya dari garpu tipis dari trident yang dimiliki Retiarius. Helmnya juga bundar dan halus teksturnya, membuat agar jaring Retiarius tidak mudah menyangkut.


TERTIARIUS –di beberapa permainan, tiga orang dipertandingkan untuk melawan satu sama lainnya. Dua orang pertama akan bertarung dan yang menang akan berhadapan dengan orang ketiga, disebut Tertiarius (orang ketiga). Jika pada sebuah pertarungan seorang gladiator tidak bisa bertarung, maka Tertiarius juga boleh menjadi pengganti untuk menggantikan gladiator tersebut bertanding.

THRAEX – bentuk jamaknya adalah Thraeces alias Thracians. Mengenakan armor pelindung yang sama seperti yang dikenakan Hoplomachus, tetapi helm berbingkai luas yang menutupi seluruh kepala mereka bergayakan seekor Griffin yang kepalanya mencuat menjadi jambul tinggi. Griffin adalah binatang mitologi, sahabat dari Dewi dendam, Nemesis. Perisainya kecil (parmula) dan mengenakan pelindung lutut yang panjang. Senjatanya adalah Sica atau Falx, yakni pedang Thracia yang melengkung. Mereka dikenalkan sebagai pengganti gladiator kelas Gauls setelah bangsa Gaule membuat pernyataan damai dengan Romawi. Mereka biasanya bertarung melawan Murmillo atau Hoplomachus.


VELITES – artinya skirmisher (petarung kecil-kecilan), adalah tipe gladiator pejalan kaki yang masing-masing membawa sebuah tombak yang dipasangkan ke sebuah tali kulit untuk membantu melemparnya. Mereka dinamakan sesuai dengan nama tentara Republik.






PARA PEMBANTU DAN PENYELENGGARA ACARA

ANDABATAE – kelas Andabatae mengenakan helm dengan satu lubang mata, ia digiring ke pertempuran hanya untuk sorak sorai penonton, dan bukan menjadi bagian asli dari kontes gladiator.

EDITOR –adalah orang yang membiayai atau menyelenggarakan ajang gladiator. Mereka juga yang mengumpulkan masa untuk menonton ajang tersebut. Selain Editor, ada pula Producer. Di era moderen, Editor dan Producer menjadi nama jabatan yang tidak asing untuk memprakarsai sebuah ajang/pertunjukan.

LANISTA –adalah pemilik sekaligus pelatih pasukan gladiator. Dialah yang membeli budak untuk dijadikan gladiator, dan bekerjasama dengan Producer dan Editor untuk menyelenggarakan sebuah ajang aduan di arena. Profesi ini seringkali menjanjikan banyak keuntungan, tetapi di kelas sosial, Lanista setara derajatnya dengan seorang Leno (germo) karena pekerjaan mereka sejatinya adalah “penjaja daging manusia”.

LORARIUS – berasal dari kata lorum, berarti tali kulit, atau cambuk, adalah pembantu/petugas yang mencambuki para petarung yang segan-segan atau mencambuki binatang agar terpancing amarahnya untuk bertarung.

PAEGNIARIUS –mereka bukanlah petarung yang bertarung secara serius dengan senjata mematikan, melainkan hanya penghibur yang mempertontonkan “duel” selama jam istirahat. Dialah yang menjadi penghibur untuk penonton selama para gladiator beristirahat. Dia tidak memiliki helm atau perisai, tetapi mengenakan ikatan kain yang melindungi kaki bagian bawah dan kepalanya. Orang-orang seperti ini biasanya adalah yang menikmati hidup panjang. Sebuah tulisan pada batu nisan Paegniarius bernama Secundus tertulis; Ia hidup selama 99 tahun, 8 bulan, dan 18 hari.

RUDIS –wasit arena, atau asisten wasit. Namanya merujuk kepada tongkat kayu (rudis) yang mereka gunakan untuk memisahkan para petarung. Wasit senior atau pelatih dikenal dengan nama Summa Rudis (High Referee).

VENATOR – namanya berarti pemburu. Adalah mereka yang dikhususkan untuk memburu binatang liar untuk nantinya diadu dengan gladiator Bestiarius. Selain menangkapi binatang, Venator juga melakukan atraksi di arena seperti atraksi sirkus, misalnya memasukkan tangan mereka ke mulut singa, mengendarai unta sambil membawa singa (yang dirantai seperti anjing), serta membuat gajah berjalan di atas tali yang tegang.